Udang galah

Bookmark and Share

TEKNIK PEMIJAHAN UDANG GALAH / GIANT FRESH WATER
(Macrobrachium rosenbergii de Man.)
Udang galah merupakan udang air tawar yang berukuran cukup besar dan rasa yang lezat
sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor.
Udang konsumsi ukuran 20—30 ekor/kg di pasar lokal dapat dijual dengan harga Rp35.000—
Rp50.000/kg. Maka untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut dibutuhkan suatu teknik yang dapat
memproduksi udang galah dalam skala yang cukup besar.

BIOLOGI
Udang galah termasuk famili Palamonidae. Badan udang terdiri atas 3 bagian : kepala dan
dada (Cephalothorax), badan (Abdomen) serta ekor (Uropoda). Cephalothorax dibungkus oleh kulit
keras, di bagian depan kepala terdapat tonjolan karapas yang bergerigi disebut rostrum pada bagian
atas sebanyak 11‐13 buah dan bagian bawah 8‐14 buah.
Udang galah hidup pada dua habitat, pada stadia larva hidup di air payau dan kembali ke
air tawar pada stadia juvenil hingga dewasa. Pada stadia larva perubahan metamorfose terjadi
sebanyak 11 kali dan berlangsung selama 30‐35 hari. Udang galah bersifat omnivora, cenderung aktif
pada malam hari.
Perbedaan antara udang jantan dan udang betina :
1. Udang jantan :
• Relatif lebih besar
• Pasangan kaki jalan yang kedua relatif lebih besar dan panjang (bahkan dapat mencapai 1,5
kali panjang total tubuhnya)
• Bagian perut lebih ramping
• Ukuran pleuron lebih pendek
• Alat kelamin terdapat pada basis pasangan kaki jalan kelima
• Pasangan kaki jalan terlihat lebih rapat dan lunak.
2. Udang betina :
• Tubuh lebih kecil
• Pasangan kaki jalan kedua tetap tumbuh lebih besar, tetapi tidak sebesar dan sepanjang
udang jantan
• Bagian perut lebih besar
• Pleuron memanjang
• Alat kelamin terletak pada pangkal kaki ketiga, merupakan suatu lubang yang disebut
thelicum.

PROSES REPRODUKSI
Dalam prakteknya, kegiatan pemijahan secara alami adalah berupa memasangkan induk
jantan dan betina yang matang gonad/siap kawin ke dalam wadah pemeliharaan yang sama. Tidak
seperti pada proses perkawinan ikan budidaya lainnya ‐misalnya ikan mas‐‐, proses pemijahan dapat
terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan hanya hanya perlu sekitar satu atau dua hari. Ikan yang
matang gonad akan memijah/kawin secara alami. Pada pemijahan udang, proses perkawinan sangat
dipengaruhi dan berkaitan erat dengan proses moulting (pergantian kulit) pada induk betina. Dalam
hal ini proses moulting dan pemijahan dipengaruhi oleh kelenjar hormon yang terdapat pada tangkai
mata.
Sebelum terjadinya proses perkawinan, udang betina berganti kulit terlebih dahulu yang
disebut premattingmoult. Setelah udang betina mengalami pergantian kulit, keadaannya menjadi
lemah. Pada saat inilah perkawinan akan terjadi. Perkawinan udang galah berlangsung secara
sederhana. Udang jantan akan mengeluarkan spermanya dan sperma tersebut akan ditampung pada
spermatheca diantara kaki jalan betina. Proses selanjutnya adalah proses pembuahan yang terjadi di
luar tubuh induknya. Kejadian ini berlangsung pada saat telur turun melalui lubang kelamin, yang
kemudian akan dipindahkan ke tempat pengeraman. Telur yang terdapat pada spermatheca akan
dibuahi oleh sperma. Setelah pembuahan berlangsung, telur diletakkan pada ruang pengeraman
yang terdapat diantara kaki renang induk betina hingga saatnya menetas.
Di alam bebas proses pemijahan umunya terjadi di muara sungai. Di daerah tropis seperti
Indonesia proses pemijahan sangat mungkin terjadi sepanjang tahun. Secara biologi proses
pemijahan ini akan terjadi di muara sungai karena larva/naupli udang galah hanya akan dapat hidup
dan berkembang pada kondisi air payau (kadar garam 8‐12 ppt).
PEMILIHAN LOKASI
Untuk menentukan lokasi backyard hatchery udang skala rumah tangga tentu saja berbeda
dengan hatchery skala besar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi adalah :
1. Mudah memperoleh air tawar yang bersih, jernih, dan bebas dari limbah
2. Tersedia aliran listrik selama 24 jam
3. Tanah dasar bak cukup stabil
4. Dekat dengan pemasok nauplius, pakan, dan daerah pemasaran.
SARANA
1. Air Tawar
Air tawar ini diperlukan untuk pengenceran dalam membuat air payau (salinitas 8‐12 ppt),
pemeliharaan larva, pencucian bak dan peralatan pembenihan lain, pemeliharaan induk,
aklimatisasi, dan juga penampungan sementara pascalarva sebelum dipasarkan.
Air tawar ini harus bersih dari endapan lumpur dan kotoran lain, terbebas dari berbagai
pencemar (pestisida, minyak, pelumas, limbah pemukiman/industri, bahan‐bahan lain yang dapat
menurunkan kualitas air), pH 7,5‐8, dan kesadahannya 40‐100 ppm.

Sumber air dapat berasal dari PAM, tetapi karena suplainya tidak selalu teptap, maka
dilakukan penampungan dalam bak, lalu dialirkan melalui pipa‐pipa ke hatchery.
2. Air Laut
Air laut ini diperlukan untuk pengenceran dalam membuat air payau. Air laut harus terbebas
dari berbagai pencemar dan memiliki pH 7,5‐8.
3. Suplai Udara / Aerasi
Aerasi ini dibutuhkan untuk mendistribusikan oksigen, mendistribusikan pakan hidup, dan
juga mendistribusikan pakan buatan menjadi bergerak seperti pakan hidup (karena udang lebih
menyukai pakan hidup/yang bergerak).
Aerasi ini dilakukan secara terus‐menerus selama pemeliharaan dan penetasan kista
artemia. Sumber udara ini dapat berasal dari blower. Udara yang dipompakan blower dialirkan
melalui pipa pralon, lalu dialirkan pada selang‐selang kecil dari plastik untuk disebarkan (ujungnya
diberi batu aerasi agar dihasilkan gelembung udara kecil), lalu batu diletakkan pada dasar bak.
Jumlah aerator yang dibutuhkan tergantung dari volume air yang tersedia.
4. Tenaga Listrik
Listrik ini dibutuhkan untuk peneranagn, menjalankan blower, pompa air, heater, dll. Listrik
dapat berasl dari PLN, tetapi karena listrik dapat terputus maka perlu disediakannya generator
pembangkit listrik.
5. Wadah Penetasan dan Pemeliharaan
Wadah pemijahan yang dapat digunakan antara lain antara lain : kolam tanah, bak beton,
bak serat kaca maupun akuarium. Penggunaan wadah tersebut sangat terkait dengan tingkat
penanganan yang akan diterapkan, sebagai contoh pemijahan induk di akuarium memerlukan
penanganan yang lebih dimana memerlukan sistem aerasi, pergantian air yang rutin bahkan
mungkin pemanas air, sementara jumlah induk yang dipeliharapun terbatas. Oleh karena itu wadah
yang banyak yang dipakai di unit‐unit pembenihan umumnya berupa kolam atau bak beton dengan
luasan yang cukup memadai sesuai jumlah induk yang dikelola. Persyaratan wadah untuk kolam
pemijahan adalah sama seperti halnya wadah pemeliharaan untuk pematangan. Kolam memiliki
pemasukan air dan pintu pengeluaran. Debit air yang masuk ke kolam kurang lebih 0,5 l/detik. Kolam
dilengkapi pula dengan dengan system kemalir dan kobakan yang akan memudahkan pada saat
panen/seleksi.
Persiapan kolam yang perlu dilakukan meliputi, pengeringan, perbaikan dasar, pematang
serta kemalir kolam, dan pengapuran dengan dosis 50 gram/m2. Hal lain yang harus dilakukan adalah
pemasangan shelter/tempat berlindung bagi udang yang sedang berganti kulit. Untuk hal ini dapat
digunakan daun kelapa dan ranting pohon. Kedalaman air di kolam yang ideal untuk pemijahan
antara 80 ‐ 100 cm.
6. Bejana Kultur Makanan Alami
Bejana ini untuk kultur Artemia salina. Bejana ini dilengkapi pula dengan aerator.

SELEKSI INDUK
Beberapa persyaratan untuk mendapatkan induk yang baik :
1. Ukuran induk betina diatas 40 gr dan jantan diatas 50 gr
2. Kantung pengeraman penuh telur yang sudah berwarna abu‐abu
3. Organ tubuh lengkap / tidak cacat
4. Kulit bersih / bebas dari kotoran maupun organisme yang bersifat patogen
5. Umur induk antara 8‐20 bulan
6. Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya, belum
dipijahkan lebih dari 7 kali.
7. Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat
Dalam pengamatan produksi di lapangan, hasil kegiatan pemijahan biasanya dapat
dievaluasi setelah 21 hari, dari mulai induk disatukan dalam wadah pemijahan. Seleksi induk matang
telur dilakukan dengan mengeringkan kolam pemijahan, kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada pagi
hari. Pagi hari sebaiknya kolam sudah kering dan induk tertampung semua dalam kobakan, pada
kondisi ini air sebaiknya terus mengalir. Oleh karena itu sistem kemiringan kolam, kemalir dan
kobakan harus diterapkan dengan baik, sehingga induk terjaga dari kematian.
Induk‐induk dipanen secara hati‐hati dan dikumpulkan di hapa atau bak penampungan
yang sudah disiapkan sebelumnya dan dilengkapi dengan sistem air mengalir. Setelah kondisi induk
disegarkan beberapa saat, maka proses seleksi/pemilihan induk matang telur dapat segera
dilakukan. Berdasarkan pengamatan dilapangan tingkat kematangan telur induk dapat bervariasi
dari mulai oranye, kuning hingga colat keabu‐abuan. Induk yang siap ditetaskan adalah yang
berwarna coklat keabu‐abuan, induk ini secara hati‐hati harus segera dipindahkan ke bak penetasan
yang telah disiapkan sebelumnya (air yang digunakan untuk penetasan mengandung kadar garam
kurang lebih 5 ppt). Untuk induk‐induk dengan warna telur, oranye dan kuning dipisahkan pada
kolam atau bak Khusus untuk dimatangkan lebih lanjut. Sedangkan induk jantan dapat dipelihara
kembali di kolam pemulihan/pemeliharaan induk dan dipisah dari induk betina.
Dalam pengelolaan suatu unit usaha pembenihan udang galah, jumlah induk yang dikelola
sangat menentukan bagi keberhasilan suatu perencanaan produksi. Setelah target produksi juvenil
(post larva) ditetapkan sesuai dengan beberapa pertimbangan ekonomis, maka mulailah dilakukan
perhitungan secara mundur berapa jumlah induk yang harus dikelola, agar target produksi tersebut
dapat dicapai.
Terkait dengan Induk dan pengelolaanya maka beberapa hal yang perlu dicatat dan
diperhatikan dalam perencanaan produksi antara lain sebagai berikut:
1. Jumlah telur yang dihasilkan oleh betina (fecundity ). Sangat terkait dengan ukuran induk yang
digunakan, dan tingkat pemeliharaan yang dilakukan terkait pengelolaan air dan pakan yang
diberikan,
2. Data hubungan antara bobot induk matang telur terkait dengan jumlah larva/naupli yang
dihasilkan. Data ini mencerminkan kualitas telur yang dihasilkan,
3. Data jumlah prosentase jumlah induk yang bertelur dan matang telur dihubungkan jumlah
betina seluruhnya,

4. Jumlah jantan dan betina yang digunakan perbandingannya sesuai.
Perbandingan jantan dan betina dalam kegiatan pemijahan tergantung dari tujuannya.
Perbandingan jantan : betina (1 : 3) adalah sangat umum dilakukan untuk suatu kegiatan produksi
benih sebar untuk keperluan pembesaran. Adapun untuk tujuan perbanyakan induk ‐ induk alam
umumnya dilakukan dengan perbandingan (1 : 1).
PEMIJAHAN
Pada prinsipnya teknik pemijahan yang banyak diterapkan dalam pembenihan udang
galah adalah bersifat alamiah seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Walaupun proses
perkawinan dipengaruhi proses moulting, yang mana terkait dengan kelenjar hormon yang ada pada
tangkai mata, namun dalam proses pemijahan, tidak lazim dilakukan pemotongan tangkai mata
(ablasi) untuk merangsang terjadinya proses tersebut.
Sebelum terjadi pemijahan udang betina terlebih dahulu berganti kulit (premating moult).
Pada kondisi ini udang lemah, setelah pulih kembali terjadilah pemijahan. Pemijahan dapat
dilakukan di kolam tanah, akuarium, bak beton atau fibreglass dengan padat tebar 4 ekor/m2.
Perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3. Selama proses pemijahan induk diberi pakan pelet
dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% per hari dari berat biomass dengan frekuensi
pemberian pakan 4 kali sehari, lama pemijahan 21 hari.
Dalam usaha budidaya, benih merupakan faktor penentu dan mutlak harus disediakan.
Untuk memenuhi pangsa pasar di luar maupun dalam negeri, diperlukan kesinambungan produksi
dan ketersediaan suplai benih yang memenuhi syarat baik kuantitas maupun kualitas. Benih udang
galah dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu mengumpulkan benih di alam dan juga dengan cara
memproduksi benih di balai‐balai pembenihan.
PEMELIHARAAN INDUK
Induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 4 ekor/m2, diberi pakan berupa pelet dengan
kandungan protein 30% sebanyak 5% dari berat tubuh. Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan
dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah, baik di kolam maupun di bak beton dilengkapi
dengan pintu pemasukan dan pengeluaran dengan kedalaman 80‐100 cm.
PAKAN DAN PEMBERIAN PAKAN
Kandungan nutrisi dari pakan yang diberikan akan sangat mempengaruhi kualitas telur
yang dihasilkan. Karena itu kandungan protein dari pakan yang diberikan sebaiknya tidak kurang dari
30%. Jumlah pemberian pakan adalah 3 ‐ 5 % dari bobot induk yang ada. Jumlah pemberian pakan
pada malam hari dianjurkan lebih banyak.
Pakan terdiri dari dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan/adonan. Artemia salina
banyak digunakan sebagai pakan alami. Artemia salina yang digunakan yang masih dalam stadium
naupilus. Cara penetasan kista Artemia salina :
1. Kista direndam di dalam larutan klorin 1,55 ppm selama 30 menit
2. Kista yang mengendap dicuci dengan air tawar bersih
3. Ditiriskan
4. Kista dimasukkan ke air payau yang beraerasi

Panen naupilus dilakukan setelah 24 jam untuk pakan larva yang berumur kurang dari 15 hari,
sedangkan untuk pakan larva 15 hari hingga pascalarva diberikan naupilus yang telah berumur 48
jam. Jumlah yang diberikan tergantung dari umur larva, semakin besar larva maka akan semakin
banyak kebutuhan naupilusnya.
Pakan buatan terdiri atas susu tanpa lemak (12 gr), tepung terigu (50 gr), kuning telur (120
gr), udang (650 gr), vitamin (10 mL), dan air (100‐200mL). Pakan alami diberikan 3 kali.hari,
sedangkan pakan buatan diberikan 2x/hari. Pakan buatan tersebut dibuat dengan cara :
1. Semua bahan (kecuali udang) dihaluskan dengan blender
2. Udang dubuang bagian kepala dan kulitnya
3. Udang digiling
4. Udang disatukan dengan seluru adonan, lalu dihaluskan
5. Adonan dimasukkan ke dalam loyang, lalu dikukus
6. Direndam dengan air
7. Disaring (besarnya mata saring sesuai kebutuhan)
PENETASAN TELUR
Bak penetasan yang digunakan berukuran (1 x1 x0,5) m2 dengan media air payau bersalinitas
3‐5 ppt, padat penebaran induk 25 ekor per bak. Selama penetasan telur, induk diberi makanan
berupa ketela rambat, singkong atau kentang dipotong‐potong kecil. Hal ini untuk menghindari
dampak negatif kualitas air. Pada suhu 28‐30°C telur akan menetas dalam waktu 6 ‐ 12 jam.
Kemudian larva dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan.
Setelah dilakukan pemijahan seiama 21 hari, induk diseleksi yang matang telur dengan
warna telur abu‐abu. Induk tersebut diberi perlakuan dengan larutan Malachite green sebanyak 1,5
mg/liter, dengan cara perendaman selama 25 menit.
PEMELIHARAAN LARVA
Pemeliharaan larva udang galah dapat dilakukan pada bak fiber glass kerucut atau bak beton
yang sudagh dibersihkan dari kotoran dan dicuci dengan menggunakan larutan kaporit 10 ppm. Hal
yang perlu mendapat perhatian dalam pemeliharaan larva tersebut antara lain kualitas air dan
pemberian pakan baik pakan alami maupun pakan adonan yang disesuaikan dengan bukaan mulut
larva. Kepadatan larva yang ditebar 50 ekor/liter.
Pakan berupa nauplius artemia diberikan pagi dan sore hari pada hari ke‐3. Pada hari yang
sama diberikan juga pakan adonan sampai menjadi post larva dengan frekuensi pemberian 8
kali/hari. Penggantian air dilakukan setiap hari sebanyak 20‐30%, pada hari ke 10 mulai dilakukan
penyiphonan kotoran pada dasar bak. Kadar garam media pemeliharaan larva 10 ppt.
Setelah seluruh larva menjadi juvenil, kadar garam diturunkan secara bertahap sampai 0 ppt,
grading mulai dilakukan setelah larva berumur 30 hari, lalu pada hari ke 45 juvenil siap untuk
dipasarkan.
Pemberian pakan untuk larva dilakukan dengan cara :
1. Aerator dimatikan agar larva yang berda di dasar dapat naik ke permukaan.
2. Pakan ditaburkan secara merata

3. Aerator dinyalakan.
Setiap harinya dilakukan pembersihan bak pemeliharaan dengan cara :
1. Aerator dan heater dimatikan
2. dibiarkan selama 30 menit agar kotoran mengendap
3. kotoran diambil dengan cara dihisap dengan pipa pralon yang disambungkan dengan selang
4. di ujung selang dipasang saringan agar lara tidak dapat menembusnya
5. air diganti dengan yang baru
6. Aerator dan heater dibersihkan
7. Aerator dan heater difungsikan kembali.
PENCEGAHAN PENYAKIT
Selama periode pemeliharaan larva, sering terjadi serangan penyakit bakterial yang berasal
dari laut yakni Vibrio sp. dengan tanda‐tanda stress. Lalu terjadi kematian massal dalam waktu yang
singkat. Untuk mencegahnya, perlu dilakukan chlorinasi media dan pemgeringan bak serta fasilitas
lain selama seminggu. Seandainya sudah terjangkit penyakit tersebut pada larva yang dipelihara
maka dapat digunakan Furazolidon dengan dosis 10‐15 ppm.
Penyakit merupakan salah satu faktor pembatas keberhasilan pembenihan udang galah.
Penyakit yang biasa timbul adalah penyakit bakterial yangberupa Vibro sp. dengan ditandai
semacam stress, Fluorisensi pada larva yang mati dan terjadi kematian massal dalam waktu yang
singkat.
Untuk mencegah terjadinya serangan bakterial perlu adanya “Chlorinisasi” media dan
pengeringan fasilitas selama 7 hari, jika sudah terserang pengobatannya menggunakan Furozolidone
dengan dosis 11‐13 ppm, dengan cara perendaman selama 3 hari.
DAFTAR PUSTAKA :
Dyah, S. H. 1991. Pembenihan Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man.). Laporan Kerja
Praktek Mahasiswa Biologi. Institut Teknologi Bandung
http://www.agrina‐online.com/show_article.php?rid=10&aid=360
http://www.dkp.go.id/content.php?c=1436
http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1‐transitional.dtd
http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1‐strict.dtd

{ 1 komentar... Views All / Post Comment! }

hormon tumbuhan mengatakan...

PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO

menyediakan bio aqua untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www TOKOPEDIA.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro

Poskan Komentar